Kak Jumi, Janda Konflik Yang Ikhlas, Tegar dan Inspirasi Wanita Aceh

Artikel terkait : Kak Jumi, Janda Konflik Yang Ikhlas, Tegar dan Inspirasi Wanita Aceh

Kak Jumi, Janda Konflik Yang Ikhlas, Tegar dan Inspirasi Wanita Aceh

Gambar konflik Aceh

Deunge lon kisah saboh riwayat
Kisah baro that di Aceh raya
Lam karu Aceh timu ngen barat
Bak saboh teumpat ulon calitra
Na sidroe anuek dimoe siat-at
Lam jeut-juet saat dua ngon poma
Ditenyong bakma ayah dinoe pat
Rindu lon than-that neuk kalon rupa
Menyoe hanale meupat keuh jeurat
Lon neukjak siat jak baca doa
Penggalan syair penyanyi Aceh Rafli yang berjudul “ Anuek Yatim” atau anak yatimini berkisah tentang seorang janda korban konflik dan seorang anaknya yang terus meratapi dan menangisi kepergian seorang ayah untuk selamanya. Dia bertanya kepada sang ibu tentang keberadaan ayahnya, sang anak hanya sekedar ingin tahu tentang keberadaan kuburan sang ayah untuk sekedar memanjatkan doa. Sementara sang ibu hanya bisa meratapi dan tidak mampubercerita banyak tentang keberadaan sang suami.
Kisah yang sangat miris dari lagu diatas adalah sebuah realitas yang bisa kita temui di Aceh pasca konflik berkepanjangan antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sejak masa DOM (Daerah Operasi Militer) era 90an dan darurat militer banyak sekali rakyat yang menjadi korban. Banyak orang yang tidak bersalah dan berdosa dihabisi oleh pihak yang bertikai. Sehingga tidak mengherankan banyak janda-janda dan anak yatim di jumpai di pelosok-pelosok Aceh.
Kak Jumi misalnya, seorang janda korban konflik yang yang tinggal di desa Muenasah Bayu, kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Dia menjada sejak suaminya diculik tepatnya pada tanggal 27 Agustus 1990 oleh orang tidak di kenal di kawasan Alue Rambe (Kec. Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara). Ketika itu suaminya, Jamil, sedang berkerja dikebun miliknya. Tiba-tiba datang sepasukan orang tidak dikenal menjemput secara paksa dan membawa suaminya bersama mereka. Sampai sekarang kak Jumi tidak tahu keberadaan suaminya dan juga tidak tahu alasan mengapa suaminya diculik. Sedangkan untuk mencari tahu keberadaan suaminya pada saat itu merupakan suatu tindakan yang riskan dan bisa mengancam keselamatannya, kekuasaan militer sangat dominan.Aceh utara dan sekitarnya merupakan daerah operasi militer. Beberapa saat setelah suaminya diculik, kak Jumi sempat berputus asa, dan seakan kehilangan semangat dan gairah hidup. 
Perasaannya terus dihantui tentang bagaimana nasib suaminyaHingga bertahun-tahun tanpa kabar dan berita.Menangis dan meratapi nasib menjadi kesehariannya, sementara Ari dan Amirud Zahri, buah hatinya lebih tegar menghadapi hidup tanpa ayahnya, mereka terus berjuang di dalam hidupnya, mereka terus semangat menggapai cita-citanya. Itulah yang membuat kak Jumi berlahan bangkit dari keputusasaannya, hidup terus berjalan. Mereka seolah-olah tidak pernah mempersoalkan tentang keberadaan sang ayah. Hal inilah yang memantik Kak Jumi, kedua anaknya menjadi motivasi tersendiri baginya untuk melanjutkan perjuangan suami yang telah tiada. 
Kak Jumi melakoni peran sebagai seorang ibu sekaligus seorang ayah yang harus menafkahi rumah tangganyamembesarkan kedua buah hatinya Ari dan si bungsunya Amirurud Zahri. Bagi kak Jumi tinggal di rumah panggung peninggalan sang suami merupakan suatu kebahagian tersendiri. Dia jalani hari-harinya dengan makanan apa adanya. Kadang-kadang ada dapat bantuan dan shadakah dari orang-orang desanya. Kak Jumi tidak pernah menuntut dana Diyat (dana santunan yang di berikan kepada orang-orang yang meninggal disebabkan konflik). Dia ikhlas dan tidak berharap apa-apa dari pemerintah. “Hana pue lee ta ingat-ingat urueng ka meninggai ta pue ikhlas mantong” (tidak perlu lagi kita menggingat-ingat orang yang telah tiada kita ikhlaskan saja) ujarnya.Bagi kak Jumi Cuma ada satu tekad yang yang ada dalam dirinya, bagaimana membawa anak-anaknya nanti untuk bisa hidup lebih baik dari pada dirinya. 
Untuk membiayai dan membelikan pakaian seragam sekolah dua buah hatinya kak Jumi melakukan aktivitas biasa seperti bersawah dan berkebun. Kak Jumi kerap kali menjadi buruh harian disawah(tueng upah ) yang di bayar RP 20. 000 per harinya. Itupun tidak setiap hari dilakoninya tergantung ada tidaknya tawaran pekerjaan untuknya. Dalam keterbatasanya kak Jumi berhasil membuktikan tekadnya. Terbukti Ari anak sulungnya telah berhasil menamatkan kuliahnya di PGSD di salah satu perguruan tinggi di Aceh Utara. Bahkan Ari telah diangkat menjadi guru PNS di salah satu sekolah di kecamatan Kuta Makmur.
Kisah seorang janda yang terdzolimi, bersama dua orang anaknya yang tetap terus bertahan hidup untuk menjadi manusia yang lebih berguna, patut kita teladani dan kita jadikan inspirasi.Keikhlasan kak Jumi ketika dihadapkan pada berbagai kesulitan hidup,membuatnya kuat dan tidak menyerah begitu saja. Dia juga mengikhlaskan kepergian sang suami tanpa mengharap adanya bantuan apa-apa. 
Bantuan yang seharusnya menjadi haknya dan juga hak kedua anak yatimnya.Seorang kak Jumi hanyalah segelintir kisah dari ratusan janda-janda korban konflik lainnya di Aceh, atau juga di negara manapun di dunia ini yang sedang dilanda konflik. Kak Jumi telah menjadi pahlawan bagi dirinya dan kedua anaknya. Mungkin sulit kita jumpai wanita setengar ini. Akan tetapi kak Jumi telah mampu melakoninya.

sumber: www.kompasiana.com

Artikel Manis Info Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Manis Info | Design by Bamz