Sedihnya Nasib TKW Di Taiwan "Saya diperkosa lima kali seminggu"

Artikel terkait : Sedihnya Nasib TKW Di Taiwan "Saya diperkosa lima kali seminggu"

Sedihnya Nasib TKW Di Taiwan "Saya diperkosa lima kali seminggu"

Salah satu TKW Indonesia
Manisinfo.com - Setiap tahun, lebih dari 100 permasalahan agresi seksual terhadap pekerja migran yang dilaporkan di Taiwan. Para pelakunya hampir rutin maapabilan para migran, kerabat terdekat, alias makelar penyalur kerja. Berikut laporan wartawan BBC di Taiwan, Cindy Sui.
Pada September 2016 lalu, seorang asisten rumah tangga di Taiwan merekam kejadian ketika dirinya diperkosa oleh maapabilannya yang memperkerjakannya untuk memelihara sang ayah yang telah renta.

Perempuan tersebut mengaku terhadap polisi bahwa dirinya telah diserang dengan cara seksual berulang kali. Dirinya telah mengirim rekaman video agresi ke makelar supaya penyuplai penyalur kerja memindahkannya ke maapabilan lain, tetapi upaya itu sia-sia.
Dia kemudian mengirim video itu ke seorang kawan, yang lalu mengunggahnya ke media sosial demi mempublikasikan aksi kejahatan tersebut. Permasalahan ini sontak membikin momen agresi seksual terhadap warga Indonesia serta pekerja migran lainnya di Taiwan menjadi sorotan.

Meski demikian, seorang perempuan lain yang sedang memperjuangkan permasalahannya di pengadilan sepakat angkat bicara asalkan BBC menyembunyikan bukti dirinya. Perempuan itu berumur 22 tahun ketika datang pertama kali di Taiwan untuk memperoleh uang demi menopang keluarganya.

Tetapi, tidak lama seusai mulai bekerja di sebuah restoran, dirinya mengklaim adik maapabilannya memperkosanya. Pria tersebut merupakan orang yang mengantarnya ke restoran setiap pagi jadi dirinya bisa menyiapkan makanan sebelum staf lain serta para pelanggan datang.

"Pertama kali dirinya memperkosa saya ketika satu alias dua bulan seusai saya mulai bekerja di sana," kata Ery (bukan nama sebetulnya).

"Momen itu terjadi pada pagi hari seusai dirinya mendampingi saya ke restoran. Tiada orang lain di sana. Saya tidak bisa menghentikan dirinya serta tidak bisa minta tolong. Saya hanya bisa menangis…Saya pikir dirinya hanya meperbuat itu satu kali..Tetapi itu terjadi lagi serta lagi. Dirinya memperkosa saya tiga hingga lima kali dalam seminggu," paparnya.

Awalnya, Ery tidak mengerti bahasa Mandarin, tidak tahu ke mana wajib meminta tolong, serta bahkan dirinya tidak punya telepon seluler alias punya waktu untuk berkawan. Selagi, tindak pemerkosaan berlanjut, dirinya tidak menceritakannya ke siapapun, tergolong ke maapabilan alias makelar penyalur kerja.

"Mereka bakal berbicara itu salah saya. Saya takut mereka bakal mengirim saya pulang. Saya baru tiba di sini. Saya berutang Rp25 juta terhadap makelar. Saya wajib bayar utang setiap bulan serta jumlahnya lebih dari utang sebetulnya sebab mencakup bunga. Saya takut jiwa mereka mengirim saya pulang, saya tidak mampu bayar utang," tutur Ery.

Seperti tidak sedikit pekerja migran lainnya, dirinya berutang terhadap makelar penyalur kerja asal Indonesia yang mencarikannya pekerjaan serta membelikannya tiket pesawat. Ditambah bunga, utang Ery mencapai Rp40 juta, jumlah yang baru bisa dibayar Ery setidaknya selagi setahun dari menyisihkan gaji.

Selain bayar utang ke makelar asal Indonesia, Ery juga wajib bayar anggaran bulanan serta pungutan liar terhadap makelar Taiwan. Perasaan malu juga membikin Ery tidak menceritakan derita yang dirinya alamiah terhadap siapapun, tergolong keluarganya.

"Budaya di kampung halaman, orang-orang berpikir perempuan yang telah diperkosa itu kotor. Saya merasa malu serta kotor. Saya khawatir orang-orang bakal memandang saya dengan rendah. Saya tidak ingin bercerita terhadap siapapun. Bahkan hingga saat ini saya tidak bercerita terhadap bunda saya sebab dirinya bakal sangat kecewa apabila tahu," kata 

Biro Ketenagakerjaan serta Pelatihan Kejuruan (BEVT) dari Kementerian Tenaga Kerja Taiwan menyebutkan pemerintah mempunyai sistem untuk melindungi para migran. Ery mengaku tiada seorang pun yang curiga dengan adik maapabilannya. "Dia berpura-pura tidak mengetahui saya ketika ada orang lain di kurang lebih," ujarnya.

Ery jarang berinteraksi dengan orang lain, meskipun dirinya bekerja di sebuah restoran yang padat pengunjung. "Jam kerja saya sangat lama. Saya mulai bekerja pukul 06.00 untuk menyiapkan makanan bagi pengunjung serta bersih-bersih hingga pukul 22.00 alias 23.00. Pada akhir pekan, bisa lebih lama. Saya tidak bisa bicara terhadap siapapun saat bekerja, maapabilan ingin saya semakin bekerja. Selagi 16 bulan saya bekerja di sana, saya hanya punya satu hari libur pada Hari Raya Imlek. Saya wajib bekerja bahkan ketika saya sakit," papar Ery.

Pemerintah Taiwan tidak memastikan para pekerja migran mendapat waktu libur dengan cara rutin alias meninjau kesejahteraan mereka. Urusan seperti itu diserahkan terhadap makelar penyalur kerja, yang hanya peduli pada kepentingan maapabilan.

"Mereka terlalu takut memperlawankan terhadap polisi, utamanya sebab gaji mereka ditidak lebihi alias disimpan oleh maapabilan. Mereka wajib bayar anggaran makelar yang tinggi, wajib bayar utang, serta mesti menopang keluarga. Mereka tidak bisa pulang. Mereka tidak bebas," kata Suster Wei Wei, salah seorang pegiat HAM dari organisasi Rerum Novarum Center.

Manakala para pekerja migran mengabarkan tindak kejahatan yang menimpa mereka, biasanya telat. "Biasanya (pelaporan) terjadi bukan dalam periode emas, dalam kurun 72 jam seusai momen terjadi jadi dokter tetap bisa mengambil sampel sperma dari tubuh mereka. Mereka mungkin diserang pada hari Selasa, tetapi mereka tidak mengabarkannya hingga libur hari Minggu," kata Suster Wei Wei.

"Tidak sedikit pekerja migran disuruh maapabilan mereka untuk mandi terlebih dulu seusai diserang dengan cara seksual serta mencuci semuanya untuk memusnahkan bukti. Dengan demikian, yang kerap terjadi dalam permasalahan migran, buktinya tidak lebih jadi jaksa tidak sempat mengajukan tuntutan…Hanya segelintir maapabilan yang didakwa serta mereka biasanya hanya diberi sanksi alias mereka bayar korban dengan jumlah kompensasi yang kecil."

Sejumlah LSM berbicara sistem perlindungan pekerja migran di Taiwan tidak bermanfaat.
Dari 25 permasalahan yang ditangani organisasi tempat Suster Wei Wei bernaung, hanya tiga perempuan migran yang sukses mendakwa pemerkosa mereka. Kemudian, dari tiga permasalahan itu, hanya satu yang dihukum penjara.

Adapun perempuan yang sepakat diberi kompensasi cepat-cepat disuruh pulang ke negara mereka. Hukum yang berlaku di Taiwan saat ini tidak mengwajibkan makelar penyalur kerja untuk mengabarkan kejahatan.

Dalam jawaban tertulis untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan BBC, Biro Ketenagakerjaan serta Pelatihan Kejuruan (BEVT) dari Kementerian Tenaga Kerja Taiwan menyebutkan pemerintah mempunyai sistem untuk melindungi para migran.

"Negara kami telah menciptakan sebuah sistem yang patut serta lengkap untuk melindungi hak-hak migran," sebut biro itu dalam pernyataan tertulis.

Perlindungan hak-hak migran yang dimaksud mencakup pemberian info hak-hak migran sebelum mereka meninggalkan negara masing-masing serta ketika mereka tiba di bandara di Taiwan. Kemudian, kehadiran saluran telepon yang bisa dihubungi untuk mengabarkan pelecehan seksual, pemberlakuan wawancara terhadap migran saat pulang, serta mengizinkan para migran beralih maapabilan apabila mereka bisa membuktikan telah diserang.

Pemerintah Taiwan dikualitas tidak memastikan para pekerja migran mendapat waktu libur dengan cara rutin alias meninjau kesejahteraan mereka. Urusan seperti itu diserahkan terhadap makelar penyalur kerja, yang hanya peduli pada kepentingan maapabilan. Seperti yang dialami para korban agresi seksual lainnya, dirinya langsung ditempatkan di sebuah lokasi penampungan serta didampingi pengacara. Tetapi, setahun kemudian, permasalahannya terombang-ambing.

Jaksa penuntut umum memutuskan tidak mengajukan tuntutan sebab mereka meyakini klaim adik mantan maapabilan Ery bahwa hubungan seksual terjadi atas dasar suka sama suka.

"Dia berani berbicara itu terjadi atas kemauan bersama. Saya sangatlah merasa sakit. Saya harap dirinya dihukum atas apa yang dirinya perbuat terhadap saya," kata Ery.
Pengacara Ery telah mengajukan banding. Tetapi, apabila jaksa menolak membuka kembali investigasi, permasalahan Ery bakal ditutup.

Sebab merasa frustrasi, Ery ingin menyerah serta pulang ke Indonesia.
"Saya ingin mendirikan usaha kecil serta memperkerjakan warga Indonesia jadi kami bisa bekerja di Indonesia serta tidak wajib berangkat ke negara lain untuk bekerja," ucap Ery. (mi/dr)


Kunjungi Web Dodge terlengkap:


Artikel Manis Info Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Manis Info | Design by Bamz