Pande, Peradaban Tersembunyi dan Potensi Nipah

Artikel terkait : Pande, Peradaban Tersembunyi dan Potensi Nipah


Makam yang berderet rapi di atas tambak dan semak-semak
Awal mulanya peradaban, sebelum berubah nama menjadi Banda Aceh, gampong ini tidak jauh terletak dari jantung kota. pagi itu sangat cerah, seakan sinarnya menemani saya untuk mengenal sejarah masa kegemilangan Aceh zaman dulu. saya dan beberapa teman, sudah berkumpul sekitar pukul 10.00 WIB, di Gampong Pande.

Setelah bertanya-tanya dengan warga dan sedikit tersesat. akhinya saya bisa juga tepat waktu sebelum acara tur sejarah itu dimulai. Saya sedikit malu ketika bertanya, kalau tempat sejarah awal muasalnya negeri ini saja tidak tahu. memang, saya tidak pernah tahu tentang Gampong Pande. Jika tidak ada acara tur sejarah tersebut, mungkin saya tidak akan pernah kesana. acara ini disenggalarakan oleh International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS).

"Teman-teman bisa berkumpul sebentar!" seru seorang pria berkulit hitam nan gendut. para peserta tur sejarah yang sedang melihat-lihat foto-foto tempo dulu di sekitaran stand berkumpul cepat. bukan hanya orang dewasa, peserta acara ini juga diramaikan oleh anak-anak, bahkan mereka sangat antusias dan beberapa kali bertanya saat dijelaskan oleh kordinator acara.

Ini yang ditunggu. kami diperkenalkan dengan seorang pemudi setempat, Icha namanya. dialah yang menjadi pemandu kami. saya tidak tau betul tentangnya. tapi dia terlihat lebih muda dari saya dan teman-teman. "kita akan melakukan tur keempat titik" ujar Icha.

Kami tiba di depan sanggar Putro Ijo. Disinilah pusat kesenian pada masa kerajaan Aceh saat itu. Tak ada yang bisa dikenang sebagai peninggalan. Dari tampaknya, bagunan ini, sepertinya bukan bagunan yang lama. Tepat didepan sanggar ada komplek makam Putro Ijo. Putro Ijo adalah sebuah nama putri sultan kesultanan Aceh Darussalam. Nama itu ada karena kecantikannya hingga terlihat urat.

Perjalanan kami berlanjut ke komplek makam Tuanku Dikandang atau yang bernama lengkap Al Makhdum Abi Abdullah Syaikh Abdurrauf Al-Mulaqqab, dan Raja-raja Gampong Pande. Disini Icha menjelaskan bagaimana penanda nisan pada makam tersebut. “Nisan yang bersayap pada bagian atasnya untuk perempuan, sedangkan yang tidak bersayap untuk laki-laki”. Jelas Icha.

Sejak dijadikan Gampong Pande sebagai titik nol kota Banda Aceh. pande dibanjiri wisatawan. Ada yang sekedar penasaran dengan koin mas atau pedang VOC semenjak ditemukan 2013 silam. Atau pun benar-benar ingin mempelajari sejarah kegemilangan Aceh.
Pohon Nipah yang tumbuh liar di sekitaran Makam

Ternyata Pande menyimpan potensi sangat besar yang bisa dijadikan perkembangan ekonomi bagi penduduknya, salah satunya adalah Pohon Nipah. Icha memperlihatkan kepada kami pohon Nipah yang berderet di atas tambak yang sudah kering. “Dulu, mata pencarian masyarakat Pande adalah dengan Pohon Nipah. Karena pohon nipah, semua sisinya bisa dimanfaatkan. Daunya bisa kita jadikan rokok atau atap rumah. Sedangkan buahnya bisa kita olah jadi cemilan yang lezat. Sayangnya, sekarang jarang ada yang berkebun nipah”. Di samping itu, ada hutan bakau yang padat.

Namun miris, tidak jauh dari hutan itu, kami melihat makam yang berbaris rapi di atas tambak namun tidak terurus. Sekitar makam itu banyak sampah berserakan dan air kotor yang mengenang. Jika memang Pande telah dijadikan titik nol kota Banda Aceh alangkah baiknya, Gampong Pande ditata dengan rapi. Agar jejak para ulama masih bisa kita rasakan.

Kabarnya, Pande hampir saja dijadikan tempat pembuangan tinja. Namun sejak ditemukannya nisan para ulama saat penggalian, proyek ini dibatalkan. Dahulu, Pande adalah tempat memproduksi alat peperangan, maka tidak heran jika ada sumber lain yang mengatakan Gampong Pandai Besi. Atau Pande berasal dari kata pandai, yang di dalamnya terdapat Ulama-ulama.

Adli Dzil Ikram, Penulis adalah Mahasiswa Arsitektur UIN Ar-Raniry dan anggota Forum Lingkar Pena Banda Aceh
























Artikel Manis Info Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Manis Info | Design by Bamz