Kepala SLB Bener Meriah Divonis 9 Tahun Karena Kasus Memalukan

Artikel terkait : Kepala SLB Bener Meriah Divonis 9 Tahun Karena Kasus Memalukan

Kepala SLB Bener Meriah Divonis 9 Tahun Karena Kasus Memalukan



PRIA itu tertunduk lesu. Wajahnya terlihat muram menyiratkan beban masalah yang dihadapinya kini. Namun ia mencoba bersikap tegar. Ia mencoba tersenyum. Mungkin berharap orang-orang yang berkunjung bisa lebih tenang dan tak khawatir dengan kehidupannya sehari-hari di LP Bener Meriah.

"Saya sendiri sebenarnya tidak apa-apa. Saya akan tabah menghadapi smua ini. Saya bersumpah tidak melakukan apa yang dituduh dan divonis kepada saya," ujar pria tadi kepada mediaaceh.co.

"Demi Allah, semua yang dituduh ke saya adalah palsu. Makanya saya memutuskan banding," katanya lagi.

Pria ini bernama Win Konadi. Ia mahasiswa cerdas sejak menempuh pendidikan di FKIP Unsyiah serta lulus 2007 lalu. Saat Tsunami menyapu pesisir Aceh, Win yang bergabung dengan salah satu LSM juga aktif membantu korban tsunami. Semua ini dilakukannya atas panggilan hati nurani.

Tahun 2010 lalu, Win lulus PNS dan tahun 2015 ditunjuk sebagai Kepala SDLB Bener Meriah. Ia menggantikan kepala sekolah sebelumnya yang kini dinonjobkan dan menjadi guru biasa di sekolah setempat. 

Namun jabatan tersebut seolah menjadi musuh bagi dirinya. Berbagai fitnah mulai menerpanya. Seolah ada skenario besar untuk menjatuhkannya dari jabatan tersebut. Terakhir, ia harus berurusan dengan pihak berwajib untuk perbuatan, yang menurut Win, tidak pernah dilakukannya. 

Beberapa waktu lalu, ia divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Simpang Tiga Redelog dengan perkara nomor 55/Pid.sus/2017/PN atas tuduhan membujuk anak untuk perbuatan cabul. Pengadilan setempat menghukum Win berupa hukuman pidana penjara 9 tahun dan denda Rp50 juta. Jika denda tersebut tak dibayar, maka akan diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan.

Putusan ini dijatuhkan dengan mengabaikan fakta-fakta selama persidangan berlangsung. Misalnya, pengakuan korban (seorang siswa SDLB-red) bahwa persetubuhan terhadap dirinya berlangsung pada Maret hingga April 2016, pukul 13.00 WIB, di rumah Win. Padahal, siswa yang mengalami keterbatasan berpikir ini berkunjung ke rumah Win pada Desember 2015 lalu. Ini dibuktikan dengan foto yang diunggah oleh Win di akun Facebook miliknya pada 20 Desember 2015. 

Fakta lain visum dilakukan korban pada 11 Februari 2017. Sementara surat permintaan visum yang dikeluarkan oleh Polres Bener Meriah pada 1 Maret 2017 atau 1 bulan setelah visum dilakukan dan hasil visum baru keluar 3 Maret 2017.  Dengan fakta ini, bisa disimpulkan bahwa visum dilakukan sekitar 1 tahun lebih setelah kejadian. Anehnya, menurut pengakuan dokter di persidangan, hasil visum menunjukan bahwa luka lecet di anus korban masih berwarna pink atau baru.

Dengan kata lain, luka lecet di anus korban tersebut bukanlah luka lama seperti yang dituduh. Hasil keterangan dokter, pemeriksaan juga hanya dilakukan untuk bagian luar. Seharusnya, harus dilakukan pemeriksaan dalam dan luar. 

Semua saksi yang dihadirkan dalam sidang, selain korban, hanyalah saksi yang 'mendengarkan' serta bukan saksi yang 'melihat'.

Tak hanya itu, berkas dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk Win, juga terdapat banyak kesalahan atau copy paste milik terdakwa lainnya. Dalam berkas dakwaan untuk Win, ditulis kata-kata vagina (maaf-red). Padahal, korban merupakan laki-laki. Sayangnya, kesalahan ini diabaikan selama persidangan. Putusan hakim pun tetap memuat 'kata vagina' untuk kasus ini.

Kemudian, nama terdakwa juga tertulis Selamat bin Acim serta bukan Win Konadi. Kesalahan ini tertulis berulang kali dan terkesan disengaja. Namun kesalahan tadi tak menjadi catatan bagi hakim. Ini karena hakim yang menangani kasus Win diganti di tengah jalan. Hakim Azhari, yang awalnya menangani kasus ini, diganti oleh Mahendrasmara Purnamajati SH MH. 

Dalam BAP, visum semestinya dilakukan di Puskesmas Pante Raya Bener Meriah, tetapi tertulis Puskesmas Bandar Bener Meriah. Saat visum juga tak didampingi oleh pihak kepolisian dan keluarga. Hanya penjaga asrama. 

"Saya merasa seperti dizalimi. Belum lagi pemberitaan media online yang memojokan saya, dan tak pernah ada konfirmasi dari pihak saya," kata ujarnya.

Memang, selama persidangan berlangsung, kasus yang dihadapi menjadi bulan-bulanan media online di tanah Gayo. Berbagai prasangka diberitakan. Tanpa memuat hak jawab dari keluarga atau Win. 

Atas dasar pertimbangan tadi, Win dan keluarga memutuskan banding. Berkas banding sendiri, telah diserahkan ke Pengadilan Tinggi Banda Aceh.

"Saya berharap keadilan bisa terungkap," ujarnya.

Win sendiri sudah 10 bulan di LP Bener Meriah. Hari-hari dilaluinya dengan menulis. 

"Saya berharap, saat keluar dari sini nanti bisa menghasilkan buku. Mohon doa dari guru se-Aceh agar di banding ini, hakim bisa melihat dengan hati nurani dan membebaskan saya dari tuduhan yang tak pernah saya lakukan," akhirinya.


sumber: http://mediaaceh.co

Artikel Manis Info Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Manis Info | Design by Bamz