Kisah, Pria Miskin yang Hidup di Kota Lhokseumawe

Artikel terkait : Kisah, Pria Miskin yang Hidup di Kota Lhokseumawe

Kisah, Pria Miskin yang Hidup di Kota Lhokseumawe


Meski tertatih-tatih, langkah kaki tanpa beralaskan sandal terus mengayun sepanjang hamparan kerumunan pasir pantai yang terasa panas tersengat sinar matahari. Kucuran keringat mencerminkan asa dan nestapa perjuangan meneruskan hidup di pinggiran kota yang dikenal ‘Petro Dolar’.

Begitulah hidup Usman. Sosok pria beraut wajah tegar itu kerap membawa karung di atas pundaknya. Sekali-kali menunduk ke bawah. Ia memungut barang bekas tanpa terasa lelah terkadang pun membantu para nelayan tradisional untuk mendapat imbalan.

Sore itu, sekitar pukul 15.00 WIB, terlihat sosok pria itu beristirahat merebahkan tubuhnya di sebuah gubuk reot berdinding tepas atap rumbia yang dilapisi terpal dan ban sepeda bekas yang hanya berukuran 2x1,5 meter di Gampong Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Usman, panggilan nama itu terdengar dari mulut warga yang sedang beraktivitas tidak jauh dari gubuk yang berdiri miring diantara dua pohon kelapa itu. Pria berusia 55 tahun itu keluar dari dalam gubuk dan menghampiri suara yang memanggilnya.

Senyum dan sapapun memecahkan hawa panas diantara aktivitas warga lainnya merebus dan menjemur ikan. “Nama saya Usman, sering dipanggil bang Man oleh warga di sini,” ucapnya memulai pembicaraan sembari mengusap mata kirinya yang cacat sejak ia lahir.

Sambil melipat kedua lengan bajunya, Usman membuka diri mulai menceritakan perjalanan hidupnya. “Sudah lima tahun saya tinggal di gubuk ini, saya diberi tumpangan tempat oleh toke ikan untuk menempati gubuk ini karena tidak punya tempat tinggal,” kata usman mengawali cerita.

Dengan tatapan polos, Usman mengisahkan kehidupannya kepada GoAceh, Kamis (11/1/2018). Sudah lima tahun dirinya menempati gubuk reyot itu. Tahun-tahun sebelumnya, Ia tinggal di rumah adik kandungnya di Hagu Selatan. Nahasnya, rumah adiknya pun ludes dilalap si jago merah.

“Saya memiliki empat orang anak, sekarang mereka numpang tinggal di rumah adik kandung saya, saya memilih tinggal di gubuk ini karena di sana ramai dan sempit. Sementara dengan istri sudah bercerai sekitar satu tahun lalu, karena keterbatasan ekonomi, istri meninggalkan saya,” lirihnya dengan suara terbata-bata.

Menurut Usman, penghasilan yang didapat dari mencari barang bekas terkadang hanya cukup untuk satu kali makan saja,  terkadang sampai dua hingga tiga hari dia tidak makan selayaknya warga lainnya, karena tidak memiliki uang.

“Jika tidak ada uang, dua hari kadang saya tidak makan, rumah saya ini juga bocor saat hujan, untuk tidur saya tempati lapak pengeringan ikan sampai hujannya kembali reda,” lanjut ia mengisahkan.

Tidak ada harapan apapun dari Usman, jika pun ada dermawan yang ingin membantu, Ia hanya meminta kayu saja untuk memperbaiki gubuk yang dia tempati saat ini.”Jika ada yang mau membantu, kayu saja sudah cukup untuk memperbaiki gubuk ini,” tutupnya dengan senyum yang didera kemiskinan.


sumber: https://www.goaceh.co

Artikel Manis Info Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Manis Info | Design by Bamz