Ahli Waris Tagih Hutang Beli Pesawat Pertama Indonesia dan Buktinya Sangat Mengejutkan

Artikel terkait : Ahli Waris Tagih Hutang Beli Pesawat Pertama Indonesia dan Buktinya Sangat Mengejutkan

Ahli Waris Tagih Hutang Beli Pesawat Pertama Indonesia dan Buktinya Sangat Mengejutkan


Selembar surat yang sudah terlihat usang, masih disimpan Maksum. Surat sebesar lebih kurang seukuran STNK tersebut, kini sudah dipres rapi. Itu adalah surat tanda penerimaan pendaftaran bernomor: 18, yang merinci besaran hutang negara pada rakyat Aceh, untuk membeli pesawat pertama Indonesia pada tahun 1950.

Surat ditulis dalam ejaan lama dan sebahagian ditulis dengan tulisan tangan, serta hurufnya sudah mulai memudar.

Secara rinci, dalam surat itu menyebutkan macam hutang yaitu, uang pinjaman nasional. Kemudian, jumlah hutang disebutkan sebesar empat ribu lima ratus rupiah.

Pinjaman uang sebesar empat ribu lima ratus rupiah oleh negara ini pada Mak Bidin, beralamat Desa Pasie Manyang, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat-yang kala itu masih disebut Kewedanaan.

Mak Bidin memberikan uang pinjaman nasional Rp 4.500 tersebut, dengan uraian satu lembar serie A dan satu lembar serie B. Surat tanda penerimaan pendaftaran tahun 1950 itu ditanda tangan Bupati Kabupaten, Wedana, Kewedanaan dan juga dibubuhi setempel.

Di atas tanda tangan Bupati Kabupaten, juga ditulis pimpinan: Bank Negara Rakyat (rakjat). Selain itu, juga ada tertulis PN. Ktr. 1149-7.50. Maksum selaku penerima wasiat almarhum Mak Bidin yang tak lain adalah ayahnya sendiri.

Dari penjelasan almarhum ayahnya, Maksum mengatakan. Untuk mengumpulkan uang Rp 4.500 dengan menjual tanah dan ternak kerbau. “Uang itu kata ayah untuk beli pesawat pada masa Presiden Soekarno,” jelas Maksum di rumahnya, Desa Pasie Manyang yang telah berganti yaitu Desa Alue Tampak, Kecmatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, Jumat (16/03/2018).

Sedikitnya, kata Maksum ayahnya menjual kerbau untuk memberi pinjaman pada negara, guna pembelian pesawat pada masa era Presiden Soekarno, dari 84 ekor kerbau, dijual 15 ekor. Zaman itu, satu ekor kerbau dihargai Rp 100 rupiah.

“Ayah saya menjual tanah dan 15 ekor kerbau. Satu ekor kerbau seratus rupiah,” kata Maksum, Maka, dari 15 ekor kerbau milik almarhum Mak Bidin, uang terkumpulkan sebesar Rp 1.500. Sementara sisanya, ayah Maksum menjual tanah 2,5 hektar di Rundeng, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

Semasih hidup kata Maksum, ayahnya menyimpan surat uang pinjaman nasional itu, dalam kitab Sirah Nabi Muhammad cetakan lama. Bahkan kata Maksum, surat bukti hutang negara pada rakyat Aceh itu, pernah direndam banjir besar sekitar 1970-an. “Ketika ayah membuka kitab saya lihat ada surat tersebut,” kata Maksum, kelahiran 8 Juli 1957 , Jumat sore (16/03).

Surat bukti hutang negara itu, telah diwasiatkan pada Maksum untuk menangihnya. Itu sebabnya, sekitar satu tahun-sebelum Mak Bidin meninggal dunia, mendiang Mak Bidin membuat surat kuasa pada anaknya itu.

Pada tahun 2000 silam, tertanggal 28 Juli 2000, Mak Bidin saat hidupnya memberi kuasa pada Maksum untuk mengurus uang pinjaman nasional tahun 1950. “Untuk mengurus dan menandatangani segala sesuatu yang berhubungan dengan pengurusan Uang Pinjaman Nasional Tahun 1950, pada pejabat yang berwenang terhadap masalah tersebut,” tulis dalam surat kuasa, 28 Juli 2000 itu.

“Ayah berwasiat kepada saya untuk menangih hutang kepada pemerintah. Hutang wajib ditagih agar tidak dosa,” kata Maksum, Jumat (16/03).

Adanya wasiat tersebut, kata Maksum ayahnya tidak ada harta  lagi untuk diberikan padanya. Selain dijual untuk beli pesawat pertama Indonesia itu, ada juga sebahagian tanah diambil orang. Namun, ayahnya kala hidup, tidak mempersoalkan tanah diambil orang lain.

Tetapi, untuk uang pinjaman tersebut, ayahnya memang mewasiatkan padanya untuk mengurus. “Ayah bilang tidak ada apa-apa lagi untuk kamu. Ini bukti surat uang pinjaman nasional, kamu urus karena ini dibayar,” kata Maksum, mengisahkan wasiat ayahnya itu.

Sekitar 2007, Maksum didampingi Tgk. Muhammad Amien sudah memperlihatkan surat uang pinjaman nasional pada Wakil Gubernur Aceh, kala itu dijabat Muhammad Nazar. Selain pada Muhammad Nazar, Maksum juga sudah menyampaikan pada periode pertama Bupati Aceh Barat Ramli. MS.

Selain itu kata Maksum, ayahnya pernah mengurus pasiun veteran pejuang RI. Tetapi hingga ayahnya meninggal dunia, pensiunan veteran itu tidak kunjung ada. Namun, ayahnya tidak mempersoalkan meskipun mengeluarkan biaya untuk mengurus berbagai macam kebutuhan administrasi pensiunan. “Veteran ada diurus tapi belum berhasil, ayah tidak mempersoalkan walaupun ada biaya dikeluarkannya,” ujar Maksum, Jumat.

Itu sebabnya, bukti surat pinjaman uang oleh negara pada almarhum ayahnya itu, Maksum berharap pihak berwenang bisa melunasinya. Sebab hutang itu hukumnya wajib dibayar.

Sebelumnya, Nyak Sandang (91) dari Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, juga telah memperlihatkan bukti surat pembelian pesawat pertama Dakkota RI-001 tahun 1950.


sumber: modusaceh.co

Artikel Manis Info Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Manis Info | Design by Bamz