Cerita Sang Profesor di Istana Cot Paya

Artikel terkait : Cerita Sang Profesor di Istana Cot Paya

Cerita Sang Profesor  di Istana Cot Paya




Cerita Sang Profesor  di Istana Cot PayaPenampilan lumayan sederhana, dengan balutan kemeja putih serta celana kain hitam. Tetapi gaya bicaranya belum hilang, dirinya tetap lantang berkata mengenai pendidikan serta kemajuan Aceh ke depan, tetapi hari ini lebih terhadap revolusi bidang perekonomian.

Itulah penampilan mantan Rektor Unsyiah, Prof Dr H Darni M Daud MA,  ketika ditemui di tempat asimilasi yang dirinya namai istana Cot Paya. Tempat  itu tak jauh dari Lembaga Permasyarakatan Khaju, tempat dirinya menghabiskan hari-harinya hampir empat tahun terbaru ini.

Tempat yang gersang tersebut sudah disulapnya menjadi lahan peternakan, di segi lahan berdiri suatu  gubuk tempat dirinya beristirahat. Selagi asimilasi, hari-hari tak sedikit dirinya habiskan di situ, sore hari baru dirinya kembali ke Lapas Kajhu, yang dirinya sebut sebagai universitas kenasiban itu.

Prof Darni terkesan sehat, dirinya bersemangat ketika berdiskusi dengan para mahasiswa dari Jurusan Bahasa Inggris FKIP Unsyiah yang tergabung dalam English Student Assosiation (ESA). Dirinya tak sedikit memberbagi pendapat mengenai pendidikan serta pembangunan Aceh terhadap para mahasiswa yang datang. Berbagai dosen dari jurusan tempat dirinya membimbing dulu juga terkesan hadir pada agenda tersebut.

Prof Darni sedang menantikan hari-hari keleluasaan yang dijadwalkan pada akhir 2017 ini. Sekarang dirinya menjalani asimilasi, masa transisi dari narapidana ke masyarakat biasa. Sebagaimana kami tahu, Prof Darni sudah menedekam di dalam penjara Khaju sejak 2013 lalu sebab permasalahan korupsi yang selagi ini diakuinya sebagai suatu  tuduhan tak mendasar itu.

Prof Darni berkata kedepan dirinya bakal fokus pada bidang pertanian serta peternakan, mesikipun demikian dirinya juga tak bakal meninggalkan dunia akademisi yang sudah membesarkannya “Ide ini timbul selagi di penjara, revolusi pada bidang bisnis perekonomian,” katanya.

Ketika ditanya pendapat terkait pihak-pihak yang selagi ini bersebrangan dengannya, dirinya mengaku sudah memaafkan mereka. Mengutip pendapat Nelson Madela, Prof Darni berkata memaafkan tetapi tak melupakan. Sebab dari momen tersebut dirinya bisa mengambil pembelajaran mengenai kenasiban.

“Dendam itu hanya mengikis kekuatan kami sendiri. Kenapa kami tak lupakan sebab ini merupakan pembelajaran,” katanya.

Selama dalam penjara Prof Darni sudah menyelesaikan enam buku, salah satunya mengenai perpersoalanan dibalik permasalahan yang menjeratnya itu. Dirinya mengaku belum memberi judul buku tersebut, tetapi dirinya berimpian buku itu bakal segera bisa dibedah ketika dirinya keluar leluasa nanti.

Kepada para mahsiswa yang hadir dirinya beramanat untuk semakin berimpian dalam pendidikan, tak ada yang tak mungkin apabila ada kemauan. Prof Darni mencontohkan dirinya, berasal dari keluarga sederhana di Pidie tapi bisa melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat sampai bergelar doktor.

Demi pembangunan Aceh, dirinya berharap semua generasi muda Aceh bisa mendapatkan pendidikan tinggi. Sebab dengan generasi muda yang berpendidikan pembangunan Aceh bakal terwujud.

Artikel Manis Info Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Manis Info | Design by Bamz